Di field trip ini, kami mengunjungi Kampung Wisata Rungkut. Pertama kali kami datang, pemandangannya sudah menarik mata karena banyak tanaman-tanaman di sekitar jalan dan tidak ada sampah sedikitpun. Kampung ini tergolong kampung yang bersih karena itu kampung ini juara 2 pada tahun 2007. Sampah-sampah di Kampung Rungkut dikumpulkan setiap hari Senin dan Kamis. Jenis-jenis pengolahan sampah ada 2, yaitu sampah organic (bahan dapur, sisa makanan, dll) dan anorganik (plastic, dll). Sampah organic akan dijadikan pupuk, sedangkan sampah anorganik akan didaur ulang untuk membuat bebagai macam barang, seperti kotak pensil, tas, topi, sandal, gelang, taplak meja, frame foto dan barang-barang yang lain.
Mereka menggunakan metode Takakura untuk mengolah sampah-sampah ini. Tempat yang digunakan untuk membuat pupuk ini disebut Keranjang Takakura karena menggunakan metode Takakura. Keranjang ini berlubang-lubang agar ada udara yang masuk dan keluar. Lalu keranjang ini dilapisi dengan kardus agar binatang tidak dapat masuk dan menjaga kelembapan. Setelah itu, bantal sekam ditaruh di dasar keranjangyang berfungsi sebagai tempat tinggal mikrobakteri yang mempercepat pembusukan. Lalu tinggal memasukan sampahn, komposya dan bakteri starter kit. Lalu bagian paling atas ditutup dengan bantal sekam dan dilapisi dengan kain. Setiap hari, kompos harus selalu diaduk agar merata dari atas sampai bawah dan jika ada sampah beru, dimasukkan dan diaduk lagi. Seperti itu. Kondisi kompos tidak boleh terlalu kering atau basah. Jika terlalu kering, tambhkan air.
Sedangkan proses daur ulang plastik, yaitu pertama-tama dipilih plastic yang bagus dan layak didaur ulang, Jika tidak, ya dibuang. Lalu, plastic-plastik tersebut direndam dengan bayclin (pemutih) agar bau dan kuman-kumannya hilang. Setelah itu dikeringkan dan dikelompokkan. Lalu, tinggal deibentuk sesuai model yang diinginkan dan dijahit. Produk-produk yang dihasilkan ini bisa dijual bahkan yang membeli lumayan banyak. Biasanya yang membeli ya pengunjung yang datang. Ada yang dari luar negeri, seperti Jepang, Malaysia, Singapura, dll. Sedangkan yang dari dalam negeri yaitu, Surabaya, Jakarta, Bandung, dll, tapi jika tidak laku juga tidak apa-apa karena bisa dipakai sendiri.
Dampak positifnya yaitu :
- Kampung jadi bersih dari sampah-sampah.
- Kampung tidak bau karena ada cairan yang bisa menghilangkan bau got.
- Jalanan terlihat rapi karena banyak tanaman di pinggir-pinggirnya.
- Membantu perekonomian warga.
- Menambah kemampuan warga.
- Menjadi lebih mandiri.
Sedangkan dampak negatifnya : Membutuhkan tenaga dan waktu yang banyak.
Menurut kelompok kami, pernyataan “Waste is Gold” itu benar karena buktinya dari bahan-bahan yang sehari-hari kita anggap sampah, ternyata bisa menghasilkan bermacam-macam benda yang berguna dan ramah lingkungan. Selain itu, benda-benda tersebut bisa dijual dan menghasilkan uang. Kita harus belajar untuk menghargai hal sekecil apapun karena itu bisa berguna.